BALADA UJIAN, SCANNER, OMR dan DMR

Ujian.. kata tersebut sering kita dengar, dan yang terlintas di pikiran kita pada saat mengikuti ujian pasti mata ujian, pelajaran tambahan, pensil 2B, penghapus khusus dan yang paling melelahkan tentunya latihan mengisi lembar jawab komputer (LJK). Kenapa mesti ada latihan mengisi LJK ?

Alasan yang sering kita dengar adalah agar pada waktu pelaksanaan ujian, kita akan menjadi terbiasa saat mengisi LJK yang telah disediakan. Mmmmhhh.. satu alasan yang cukup logis, tapi tetap saja pada beberapa orang, ketika akan menghitamkan jawaban pada LJK masih saja ada kesalahan, seperti kotor, LJK terlipat, hasil hapusan yang kurang bagus, dan sebagainya, belum lagi waktu yang tersita cukup banyak untuk menghitamkan bulatan-bulatan tersebut. Dan pada saat itulah biasanya terbersit pada pikiran mereka “Aahhh… seandainya LJK ini bisa di isi silang saja”, tentu akan memudahkan dalam pengisian dan tidak memakan banyak waktu untuk mengisi nya.

Isian bulatan hitam memakai pensil 2B ini adalah teknologi yang digunakan oleh OMR (Optical Mark Reader), Orang-orang yang mengikuti ujian dengan LJK pasti selalu diingatkan agar menggunakan pensil 2B untuk menghitamkan bulatan jawaban, pensil harus dengan sempurna mengisi bulatan, kemudian kertas jangan sampai kotor atau terlipat. Kondisi itu pasti pernah kita rasakan, namun saat ini telah hadir DMR (Digital Mark Reader) yang dapat membaca tanda walau berupa titik sekalipun, tidak hanya disitu saja DMR juga dapat memproses LJK yang kotor maupun terlipat, dan yang paling mengembirakan DMR dapat membuat LJK satu warna yang nantinya dapat memangkas biaya pencetakan LJK sehingga menjadi lebih murah. Pengembangan software ini dilakukan di LPPM-ITB Bandung.

Teknologi OMR dan DMR pada prinsipnya hampir sama, yaitu memproses data pada LJK menggunakan scanner. Dan untuk kecepatan nya sendiri itu tergantung dari type scannernya, tentu saja harganya juga bervariasi. OMR 100M tipe visible red (sinar merah yang tampak dengan mata) yang menggunakan port serial RS232 atau port USB sebagai port komunikasi dengan komputer ini dibandrol sekira Rp 30 juta-an di pasaran. Jenis lain dengan kemampuan lebih besar (lebih cepat) berharga tak kurang dari Rp 50 juta. Sedangkan DMR yang dapat membaca semua tanda baik itu menggunakan pensil, tinta, spidol, dll dibandrol dengan harga mulai dari Rp. 7 juta-an, suatu perbedaan harga yang fantastis bukan?.

Saat ini adalah saat yang tepat untuk beralih kepada teknologi yang lebih maju dengan harga yang sangat murah. DMR (Digital Mark Reader) adalah pilihan yang tepat. Dengan DMR kemungkinan peserta ujian berkeringat untuk membulatkan jawaban dengan sempurna pasti akan sirna, mereka akan lebih fokus untuk mencari jawaban yang benar daripada membuat lingkaran hitam, dan juga waktu yang tersedia akan lebih banyak karena menyilang jawaban lebih cepat daripada menghitamkannya. Satu hal yang pasti DMR software yang murah tetapi bukan murahan, ini bisa dilihat dari banyaknya pengguna DMR di indonesia. 750 lisensi DMR telah digunakan di 500 lembaga pendidikan, Pemerintahan, Perusahaan BUMN dan Swasta didalam dan luar negeri. Info lengkap ada di www.digitalmarkreader.com. (Saputra)

One Response to “BALADA UJIAN, SCANNER, OMR dan DMR”

  1. yuni mustika says:

    good information…. ternyata dengan dmr bisa jadi salah satu cara untuk mengurangi rasa cemas peserta dalam mengerjakan ujian tanpa harus terpaku dengan aturan-aturan yang mengharuskan mengisi LJK dengan bulatan yg rapi. Dmr bisa mendukung institusi pendidikan indonesia lebih maju lagi.

Leave a Reply